Program MBG di Bali Serap 12.503 Pekerja hingga September 2026, Pengangguran Menurun
![]() |
| ekerja mengemas paket makan bergizi gratis (MBG) di salah satu dapur MBG di Sukawati, Gianyar, Bali, Kamis (8/10/2026) (ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna) |
WahGenz, Denpasar – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bali tidak hanya bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan kerja. Hingga September 2026, program tersebut tercatat telah menyerap sebanyak 12.503 pekerja yang bertugas di berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Bali, Supendi, mengatakan program MBG turut memberikan akses pekerjaan bagi masyarakat, khususnya melalui kegiatan operasional dapur dan distribusi makanan.
“Program MBG salah satunya membuka akses lapangan kerja,” kata Supendi di Denpasar, Jumat (9/10/2026).
Berdasarkan data per 15 September 2026, terdapat 277 unit SPPG yang telah beroperasi di seluruh wilayah Bali. Ribuan pekerja yang terlibat menjalankan berbagai tugas, mulai dari pengadaan bahan pangan, pengolahan makanan, pengemasan, hingga pendistribusian kepada penerima manfaat.
MBG Layani Lebih dari 618 Ribu Penerima
Keberadaan ratusan SPPG tersebut mendukung pelaksanaan program MBG yang telah menjangkau 618.390 penerima manfaat di Pulau Dewata.
Kabupaten Buleleng menjadi wilayah dengan jumlah penerima manfaat terbesar, yakni 107.673 orang. Posisi berikutnya ditempati Kota Denpasar dengan 106.223 penerima.
Sementara itu, jumlah penerima manfaat di kabupaten lainnya meliputi Tabanan sebanyak 85.439 orang, Badung 67.786 orang, Jembrana 67.386 orang, Gianyar 61.537 orang, Karangasem 52.100 orang, Bangli 38.424 orang, serta Klungkung 31.822 orang.
Besarnya cakupan penerima manfaat tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG melibatkan rantai kegiatan yang cukup luas. Selain tenaga dapur, program ini membutuhkan dukungan pengadaan bahan makanan, pengemasan, logistik, dan distribusi.
Kebutuhan operasional tersebut turut membuka peluang bagi masyarakat untuk bekerja di berbagai sektor pendukung program.
Pelajar SD Mendominasi Penerima MBG
Dari sisi penerima, pelajar sekolah dasar (SD) menjadi kelompok terbesar yang mendapatkan manfaat program MBG, dengan proporsi mencapai 40,14 persen.
Berikutnya, penerima dari jenjang sekolah menengah pertama (SMP) mencapai 22,16 persen, sedangkan siswa sekolah menengah atas (SMA) sebesar 17 persen.
Kelompok penerima lainnya terdiri atas anak taman kanak-kanak (TK) sebesar 6,24 persen dan balita di luar layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) sebesar 5,75 persen.
Adapun sisa penerima manfaat mencakup ibu hamil, ibu menyusui, anak PAUD, guru, serta tenaga pendidik.
Program ini diharapkan membantu memperluas akses makanan bergizi bagi kelompok sasaran sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi di lingkungan tempat SPPG beroperasi.
Tingkat Pengangguran Bali Turun pada Mei 2026
Di sisi ketenagakerjaan, data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 berada di angka 1,52 persen.
Angka tersebut turun 0,07 poin persentase dibandingkan Februari 2026. Pada periode yang sama, jumlah penduduk Bali yang bekerja tercatat mencapai 2,65 juta orang.
Sementara itu, jumlah penduduk berstatus pengangguran pada Mei 2026 tercatat sekitar 40,97 ribu orang, lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 42,32 ribu orang.
Penurunan jumlah pengangguran tersebut terjadi bersamaan dengan perluasan kegiatan ekonomi di Bali. Namun, untuk memastikan seberapa besar kontribusi MBG terhadap penurunan pengangguran, diperlukan data yang secara khusus mengukur dampak program terhadap kondisi ketenagakerjaan.
Secara nasional, hasil survei BPS juga menunjukkan bahwa program MBG memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat penerima manfaat.
MBG Jadi Program Prioritas Pemerintah
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu agenda prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Di Bali, pelaksanaan program tersebut pertama kali dimulai pada 6 Januari 2025 di Kabupaten Jembrana. Sejak itu, cakupan layanan berkembang melalui pembentukan SPPG di berbagai kabupaten dan kota.
Dengan ribuan pekerja yang terlibat dan ratusan unit pelayanan yang telah berdiri, MBG berpotensi memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja serta kebutuhan pengadaan bahan pangan dan layanan distribusi.
Meski demikian, perkembangan jumlah tenaga kerja dan penurunan pengangguran perlu terus dipantau agar dampak program terhadap perekonomian daerah dapat diukur secara lebih akurat.

Posting Komentar